Mahajitu, sebuah bentuk seni bela diri yang berasal dari India kuno, semakin populer dalam beberapa tahun terakhir karena semakin banyak orang yang mengetahui manfaat fisik dan mentalnya. Bentuk pertahanan diri yang unik ini memiliki sejarah yang kaya dan pengikut setia para praktisi yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk menguasai teknik-tekniknya.
Temui Para Guru Mahajitu: Praktisi Berbagi Kisah Mereka
Salah satu guru tersebut adalah Ravi Singh, seorang praktisi Mahajitu berusia 55 tahun yang telah mempelajari bentuk seni ini selama lebih dari 30 tahun. Ravi pertama kali menemukan Mahajitu saat bepergian di India dan langsung tertarik pada gerakannya yang lancar dan penekanan pada keseimbangan dan kontrol. Sejak itu, ia mendedikasikan dirinya untuk mengasah keterampilannya dan menyebarkan ilmunya kepada orang lain.
“Saya melihat Mahajitu bukan hanya sekedar latihan fisik, namun juga cara hidup,” kata Ravi. “Hal ini telah mengajari saya disiplin, fokus, dan ketahanan mental. Saya juga telah mengembangkan rasa hormat yang mendalam terhadap tubuh dan pikiran saya, dan saya terus berupaya untuk meningkatkan diri baik secara fisik maupun mental.”
Master Mahajitu lainnya adalah Deepa Sharma, seorang ibu dua anak berusia 40 tahun yang mulai berlatih seni bela diri sebagai cara untuk tetap bugar setelah memiliki anak. Apa yang awalnya hanya sekedar hobi dengan cepat berubah menjadi gairah, dan Deepa kini berlatih secara rutin dan berkompetisi di turnamen lokal.
“Mahajitu telah memberi saya rasa pemberdayaan dan kepercayaan diri yang tidak pernah saya sadari sebelumnya,” kata Deepa. “Ini juga membantu saya tetap bugar dan menjaga gaya hidup sehat. Saya bersyukur atas kekuatan dan ketahanan yang diberikan Mahajitu kepada saya, baik secara fisik maupun mental.”
Bagi banyak praktisi, Mahajitu bukan sekedar bentuk latihan atau pertahanan diri, namun cara untuk berhubungan dengan orang lain dan membangun rasa kebersamaan. Master Surya Patel, seorang instruktur berusia 50 tahun yang telah mengajar Mahajitu selama lebih dari 20 tahun, percaya bahwa bentuk seni bela diri memiliki kekuatan untuk menyatukan orang-orang dan meningkatkan persatuan dan pemahaman.
“Mahajitu bukan sekedar pertarungan atau persaingan, tapi tentang membangun hubungan dan terhubung dengan orang lain,” kata Surya. “Saya telah melihat siswa dari semua lapisan masyarakat berkumpul di kelas saya dan membentuk persahabatan yang langgeng. Sungguh suatu hal yang indah melihat orang-orang dari berbagai latar belakang dan budaya berkumpul melalui kecintaan yang sama terhadap Mahajitu.”
Baik mereka master berpengalaman atau pelajar pemula, para praktisi Mahajitu semuanya memiliki minat yang sama terhadap bentuk seni bela diri dan keinginan untuk terus meningkatkan dan menantang diri mereka sendiri. Melalui dedikasi, disiplin, dan kerja keras, para empu Mahajitu ini terus menginspirasi orang lain dan menyebarkan keindahan serta manfaat dari praktik kuno ini.